Jumat, 05 Desember 2008

The Circle of Water

Berkaca dari sisi cara pandang masyarakat Jawa barat atau Suku Sunda di wilayah Priangan yang mengidealisasikan tempat pemukimannya sebagai bumi yang subur makmur dengan curahan air yang mengalir… menurut istilahnya “ cur - cor ‘. Seringkali keramahan orang sunda tatkala menerima tamu, dirangkum dalam ungkapan “gek-sor”. Begitu tamu duduk langsung disambut dengan hidangan dan minuman.

Secara bahasa, di Jawa Barat kata “ci” sering dipautkan dengan nama- nama kota,kampong, desa bahkan sungai. Misalnya saja Cirebon, Cianjur, Ciamis, Cimahi, dll. Untuk nama kota. Cihapit, Cikaso, Cikawao dan Cibarengkok untuk nama kampong. Juga Citarum, Ciulan, Ciliwung, Cisadane dan Cikapundung untuk nama sungai. Semua menyandang kata “ci” yang berarti “air“.

Mengutip perkataan Prof.Ir.V.R. Van Romondt (1961) dalam kuliahnya di Jurusan Arsitektur ITB, bahwa pada umunya orang sunda baru merasa puas apabila rumah panggungnya dilengkapi “balong” dengan “pancuran” air yang mengalir jernih. Apalahi bila harta benda sang pemilik “Bru di juru, bro di panto, sawah ledok istri denok” ( harta melimpah, sawah subur dan istri yang sexy ).

Di balik cerita mengenai air, ada pemaparan yang sangat menarik mengenai siklus air bila diselaraskan dengan legenda masyarakat sunda yaitu kisah Sangkuriang.

Dalam batas konsep alam pikir kedaerahan kisah sang “AIR” sebagai sumber kehidupan bermula ketika Raja Sungging Purbangkara atau Sri Pamekas yang buang hajat kecil di hutan larangan, ditafsirkan sebagai Bapak Angkasa yang menurunklan hujan ke bumi.

Belah Tempurung yang menampung “pipis” sang raja atau air hujan dari langit adalah cekungan Dataran Tinggi Bandung yang dikelilingi gunung seakan berbentuk tempurung. Air hujan meresap keharibaan kandungan ibu pertiwi yang dikiaskan sebagai Ibu Celeng Wayungyang ( Ibunda Dayang Sumbi ). Lewat proses geologis dalam tanah, resapan dalam bentuk kandungan air bagai rakhim seorang ibu kemudian “lahir” lewat mata air yang kita kenal sebagai Sungai Citarum Purba atau Dayang Sumbi. Aliran air sungai menuju Lembah Cimeta di sebelah utara Padalarang.

Alkisah terjadinya perkawinan atara Dayang Sumbi ( sungai Citarum purba ) dengan muntahan lahar Gunung Tangkuban perahu ( Si Tumang ) yang secara geologis membendung aliran sungai hingga terbentuknya Telaga Bandung atau kita sering menyebutnya sebagai Situ Hyang. Kandungan Dayang Sumbi ( Situ Hyang ). Akhirnya sampailah pada saat kelahiran sang jabang bayi yaitu Sangkuriang. Kehadirannya diibaratkan sebagai aliran Sungai Citarum Baru yang dilahirkan sang ibu melalui tenggorokannya, diidentifikasi adanya “Sang Hyang Tikoro”. Seperti dikisahkan oleh Dr. C. W. Wormser, bahwa Sangkuriang kemudian berjalan kearah terbitnya sang surya.

Ada sangkalan mengenai hal tersebut mengingat pada kenyataannya Sungai Citarum mengalir kearah barat menuju pantai utara jawa. Namun setelah diteliti pada peta purba wilayah nusantara, ternyata arah aliran sungai Ciatarum Baru alias Sangkuriang bermuara ke Paparan Sunda ( Sunda Plat ) yang sekarang telah menjadi lautan dan memang benar – benar menuju kearah timur. Alur sungai terletak di sebelah utara Pulau Madura sekarang. (“De Geschedenis van het leven op Aarde” by Prof.Dr.G.L. Smit Sibinga)

Shahdan sangkuriang yang bermuara dilautan berkelana keliling dunia. Hingga suatu ketika melalui proses penguapan air pada permukaan laut, naiklah sebagai bintik uap air ke angkasa, gulung – gemulung terpadu sebagai mega mendung ditiup sang bayu menuju daratan, terdampar dipagut hutan pada lereng perbukitan dan pegunungan lalu jatuh kembali ke bumi sebagai rinai hujan.

Sang hujan terserap ke haribaan bumi pertiwi lalu tercurah ke Sungai Cikapundung yang kita istilahkan sebagai “Sangkuriang yang pundung” (gusar,jengkel,ngambek) mengalir membelah kota Bandung dari wilayah pegunungan di utara menuju ke selatan kota.

Di ujung pengembaraan keliling dunia, air kehidupan yang mengalir lewat Sungai Cikapundung, pada akhirnya dipertemukan dengan sang bunda Dayang Sumbi…”Sungai Citarum”. Dalam catatan Reitsma dan Hoogland (1921) pada lokasi pertemuan Sungai Cikapundung dan Sungai Citarum terdapat sebuah kampung bernama Sangkuriang.

Demikianlah versi cerita siklus air yang diibaratkan sebagi legenda Sangkuriang menemukan bentuk tafsirnya sebagi kisah kelana perjalanan setitik air hujan yang menjalani proses daur ulang. Wawasan pengetahuan dan kearifan yang tinggi tentang arti dan fungsi air bagi hajat kehidupan manusia selayaknya bisa memanfaatkan potensi air dengan mempertimbangkan ekosistem yang harus dipelira dan dijaga agar tetap berjalan seimbang dan lestari.


Ghina Agustina MS
Kutipan dari :“Semerbak Bungan di Bandung Raya”,Haryoto Kunto, 1986,PT Granesia, Cetakan ke I

Tidak ada komentar: